Perkembangan kuda lumping Temanggung dinilai melenceng dari pakem
Kendati tidak menyalahi aturan hukum apapun, namun fenomena tersebut dianggap kurang pas.
Oleh: Alfy setiawan
21 Maret 2017 12:57
Merdeka.com, Jawa Tengah - Sejumlah penggiat dan pengamat budaya menyoroti perkembangan seni kuda lumping di Kabupaten Temanggung yang dinilai telah jauh melenceng dari pakem awal serta kehilangan sisi originalitas.
Seniman sekaligus budayawan Indonesia, Didik Hadiprayitno atau yang terkenal dengan nama Didik Ninik Thowok mengamati, pertunjukan seni kuda lumping atau jathilan di Kabupaten Temanggung belakangan ini telah dikolaborasikan dengan kebudayaan asal Pulau Bali, seperti Leak dan Tari Pendhet.
Kendati tidak menyalahi aturan hukum apapun, namun fenomena tersebut dianggap kurang pas. Pasalnya, para pegiat seni yang ada belum memahami benar bagaimana sebenarnya kesenian asal Pulau Bali yang kental akan muatan sejarah lokal setempat.
“Saya kenal dengan banyak sesepuh seni serta budayawan asal Bali, pun demikian halnya dengan kebudayaan mereka. Jadi, sah sah saja mengkolaborasikan seni jathilan dengan Leak maupun Tari Pendhet. Tapi harus mendalami dan tahu dulu benang merahnya seperti apa biar kita gak diisin isini orang Bali,” jelasnya di sela acara Sarasehan Penyegaran Seni Jaran Kepang Temanggungan sebagai Penguat Identitas Budaya di Pendopo Pengayoman Temanggung, Selasa (21/3).
Atas dasar itulah, lanjutnya, butuh sebuah revitalisasi sebagai bekal pemahaman bagi para pegiat serta pemain seni jaran kepang di Kabupaten Temanggung. Baginya, menjadikan kesenian sebagai entertain sebenarnya tidak menjadi masalah asalkan tidak meninggalkan tradisi serta ritual yang telah melekat sejak zaman leluhur.
Hal ini dianggap sangat penting karena tradisi dan ritual merupakan roh dari berbagai pertunjukan seni. Bahkan, ia menambahkan, tak sedikit orang asing yang rela mempelajari kebudayaan serta kesenian Indonesia lantaran dianggap memiliki roh yang sangat kuat sebagai daya tarik utama. “Roh dari seni itu ya ritual dan tradisi. Jadi tidak bisa sebuah kebudayaan hanya asal asalan dimainkan. Nah, ini yang saya rasa tidak dimiliki oleh generasi muda jaman sekarang,” sesalnya.
Terkait hal ini, ia juga berpesan agar masyarakat tidak membenturkan antara kesenian, tradisi, serta agama mengingat ketiganya tidak dapat disatukan, meski bisa saling melengkapi. Yang patut disesalkan, di beberapa daerah justru banyak birokrasi pengampu seni dan budaya yang kurang memahami seperti apa khazanah keberagaman di Indonesia. “Padahal di luar negeri nama Indonesia dikagumi karena keberagamannya,” tukasnya.
Ketua Panitia Acara, Yudha Sudarmaji menambahkan, alasan digelarnya sarasehan kali ini lantaran dalam satu dekade terakhir semakin sulit menemukan pementasan yang mengusung seni kuda lumping asli Kabupaten Temanggung hasil kreasi para maestro dan sempat tersohor pada era tahun 70 an. Pihaknya berharap sarasehan ini dapat menggugah kembali seni jaran kepang Temanggungan serta mendorong pemerintah untuk terus melakukan pembinaan agar masyarakat kembali peduli dengan kebudayaan lokal yang telah terkontaminasi oleh kebudayaan luar daerah.
“Jaran Kepang asli Temanggung sudah kian meninggalkan pakem pakem lama karena tergeser oleh masuknya kreasi, khususnya kesenian asal Bali yang belum dikaji secara mendalam,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang sesepuh Jaran Kepang Temanggungan, Mbah Gajul, menjelaskan, saat ini dari ratusan kelompok kesenian jathilan, hanya tersisa dua kelompok saja yang masih mempertahankan pakem pakem lama. Yakni Turongggo Mudo asal Tlogomulyo dan Sri Budoyo asal Tembarak. “Jaran Kepang Temanggungan memiliki identitas yang menjadi ciri khas. Yakni musik dari perangkat gamelan murni serta pemainnya yang menggunakan baju putih, rompi, dan ikat kepala,” pungkasnya. (riz)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar