Sabtu, 13 Januari 2018

Kabar Temanggung

YANG UNIK DARI TEMANGGUNG, PADUAN KUDA LUMPIMG & LEAK BALI



Alfy Setiawan - Cah Temanggung

Cah temanggung - Melancong ke sebuah daerah bisa mendapatkan banyak hal baru. Salah satunya adalah tarian daerah yang kaya budaya. Di Temanggung ada tari kuda lumping yang digabungkan dengan leak dari Bali. Unik!

Tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia mengenai kekayaan budaya yang dimiliki bangsa ini. Puluhan hingga ratusan kebudayaan hidup di tengah masyarakat Indonesia. Kemajemukan suku dan daerah membuat Indonesia dilimpahi dengan berbagai macam kebudayaan yang selalu dapat mempercantik negara agraris ini.

Kesenian merupakan salah satu hasil kebudayaan Indonesia yang sangat diagungkan, salah satunya adalah kuda lumping. Kuda lumping atau yang sering disebut jaranan merupakan sebuah tarian yang dimainkan oleh beberapa orang dengan menaiki kuda kepang yang terbuat dari anyaman bambu dan diiringi oleh musik tradisional, seperti gamelan.

Banyak daerah mengklaim memiliki kesenian ini, namun di setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing dari kuda lumpingnya baik dalam segi kostum, musik maupun tarian. Salah satunya adalah kesenian kuda lumping yang ada di Desa PT.Serikat Putra, Pondok II LRE. Turonggo Setyo Jumeneng, begitulah paguyuban ini disebut.

Turonggo Setyo Jumeneng berdiri sejak tahun 2011, walaupun baru muncul kurang lebih 3 tahun namun paguyuban ini sudah menduduki puncak di antara paguyuban-paguyuban kuda lumping yang lain. Turonggo sendiri berarti kuda tunggangan, sementara gagak melambangkan warna hitam dan seto sendiri berarti putih. Jadi Turonggo Setyo Jumeneng sendiri dapat diartikan sebagai kuda tunggangan yang berwarna hitam dan putih.

Turonggo Setyo Jumeneng juga memiliki visi dan misi yaitu untuk menunjukkan ke dunia luar bahwa ada kesenian tari kuda lumping yang berasal dari jawa dan hingga saat ini masih dijaga kelestariannya oleh para pemuda di Desa Pondok II LRE. Selain itu, tarian ini juga dapat membangkitkan kreatifitas generasi-generasi muda dalam hal kesenian.

Pada penampilannya, Tari Kuda Lumping biasanya diiringi alat musik tradisional jawa seperti gamelan, gendang serta nyanyian berbahasa jawa yang menceritakan alur tari kuda lumping itu sendiri. Paguyuban Turonggo Setyo Jumeneng mendesign ulang penampilannya dengan menambahkan orgen dan drum sebagai pelengkap alat musik agar menghasilkan musik yang lebih menarik.

Tari kuda lumping sendiri biasanya dimainkan oleh 17 orang, 1 orang berperan sebagai Wiroyudho, 4 orang sebagai Wiropati dan 12 orang sebagai prajurit. Wiroyudho berperan sebagai pemimpin kuda lumping dengan ciri khas memegang pecut, sementara Wiropati adalah pemimpin prajurit yang menempati baris paling depan saat menari kemudian diikuti dengan barisan para prajurit. Seiring dengan perkembangan zaman, tari ini juga disisipkan unsur modern dengan memasukan budaya bali yaitu leak agar ceritanya lebih variatif dan lebih menarik.

Tarian Kuda Lumping yang dimaikan oleh Paguyuban Turonggo Setyo Jumeneng ini tentu saja memiliki cerita di dalamnya. Pertama-tama, seluruh prajurit menari dengan riang gembira. Namun kemudian datanglah Jaok yang merupakan Raja dari seluruh Prajurit Kuda Lumping, prajurit menyambut dengan gembira kedatangan raja mereka. Setelah Jaok pergi, terdengar nyanyian menyerukan untuk bersiap-siap dalam medan perang dan seluruh prajurit pun bersiap-siap menghadapi sosok yang dianggap jahat yaitu leak.

Leak sebagai simbol jahat pun masuk dan berperang dengan Wiroyudho. Setelah Leak berhasil dikalahkan, prajurit kembali bersenang-senang merayakan kemenangannya dengan diselingi beberapa penari perempuan. Biasanya penari wanita menarikan tarian merak. Kemudian leak yang telah dikalahkan tadi datang kembali dengan membawa seluruh teman-temannya dan kemudian seluruh prajurit kembali berperang melawan banyak leak dan akhirnya ditutup dengan keberhasilan mereka memenangkan peperangan.
Tarian ini memiliki durasi kurang lebih 1,5 hingga 3 jam dalam setiap penampilannya. Tentu saja untuk menghasilkan tarian yang apik, para pemuda Desa Gemawang yang tergabung dalam Paguyuban Gagak Seto rutin melakukan latihan pada setiap malam. Paling tidak satu minggu 2 kali mereka berlatih agar bisa menyuguhkan tarian yang mengundang banyak decak kagum penonton.

Paguyuban Turonggo Setyo Jumeneng sudah sering kali tampil dalam acara-acara tertentu, mereka kerap kali mendapat undangan untuk tampil di acara-acara daerah maupun acara yang digelar Pemerintah Kabupaten Temanggung.

Semangat Paguyuban Turonggo Setyo Jumeneng merupakan langkah nyata dari beberapa pemuda Indonesia yang ingin terus melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia. Sudah sepatutnya kita pun turut andil dan memiliki semangat seperti Paguyuban Turonggo Setyo Jumeneng sendiri untuk terus melestarikan dan menjaga kebudayaan negeri ini.

(Alfy Setiawan)


Minggu, 07 Januari 2018

Kuda Lumping Temanggung

Perkembangan kuda lumping Temanggung dinilai melenceng dari pakem

Kendati tidak menyalahi aturan hukum apapun, namun fenomena tersebut dianggap kurang pas.
Oleh: Alfy setiawan
21 Maret 2017 12:57

Merdeka.com, Jawa Tengah - Sejumlah penggiat dan pengamat budaya menyoroti perkembangan seni kuda lumping di Kabupaten Temanggung yang dinilai telah jauh melenceng dari pakem awal serta kehilangan sisi originalitas.

Seniman sekaligus budayawan Indonesia, Didik Hadiprayitno atau yang terkenal dengan nama Didik Ninik Thowok mengamati, pertunjukan seni kuda lumping atau jathilan di Kabupaten Temanggung belakangan ini telah dikolaborasikan dengan kebudayaan asal Pulau Bali, seperti Leak dan Tari Pendhet.

Kendati tidak menyalahi aturan hukum apapun, namun fenomena tersebut dianggap kurang pas. Pasalnya, para pegiat seni yang ada belum memahami benar bagaimana sebenarnya kesenian asal Pulau Bali yang kental akan muatan sejarah lokal setempat.

“Saya kenal dengan banyak sesepuh seni serta budayawan asal Bali, pun demikian halnya dengan kebudayaan mereka. Jadi, sah sah saja mengkolaborasikan seni jathilan dengan Leak maupun Tari Pendhet. Tapi harus mendalami dan tahu dulu benang merahnya seperti apa biar kita gak diisin isini orang Bali,” jelasnya di sela acara Sarasehan Penyegaran Seni Jaran Kepang Temanggungan sebagai Penguat Identitas Budaya di Pendopo Pengayoman Temanggung, Selasa (21/3).

Atas dasar itulah, lanjutnya, butuh sebuah revitalisasi sebagai bekal pemahaman bagi para pegiat serta pemain seni jaran kepang di Kabupaten Temanggung. Baginya, menjadikan kesenian sebagai entertain sebenarnya tidak menjadi masalah asalkan tidak meninggalkan tradisi serta ritual yang telah melekat sejak zaman leluhur.

Hal ini dianggap sangat penting karena tradisi dan ritual merupakan roh dari berbagai pertunjukan seni. Bahkan, ia menambahkan, tak sedikit orang asing yang rela mempelajari kebudayaan serta kesenian Indonesia lantaran dianggap memiliki roh yang sangat kuat sebagai daya tarik utama. “Roh dari seni itu ya ritual dan tradisi. Jadi tidak bisa sebuah kebudayaan hanya asal asalan dimainkan. Nah, ini yang saya rasa tidak dimiliki oleh generasi muda jaman sekarang,” sesalnya.

Terkait hal ini, ia juga berpesan agar masyarakat tidak membenturkan antara kesenian, tradisi, serta agama mengingat ketiganya tidak dapat disatukan, meski bisa saling melengkapi. Yang patut disesalkan, di beberapa daerah justru banyak birokrasi pengampu seni dan budaya yang kurang memahami seperti apa khazanah keberagaman di Indonesia. “Padahal di luar negeri nama Indonesia dikagumi karena keberagamannya,” tukasnya.

Ketua Panitia Acara, Yudha Sudarmaji menambahkan, alasan digelarnya sarasehan kali ini lantaran dalam satu dekade terakhir semakin sulit menemukan pementasan yang mengusung seni kuda lumping asli Kabupaten Temanggung hasil kreasi para maestro dan sempat tersohor pada era tahun 70 an. Pihaknya berharap sarasehan ini dapat menggugah kembali seni jaran kepang Temanggungan serta mendorong pemerintah untuk terus melakukan pembinaan agar masyarakat kembali peduli dengan kebudayaan lokal yang telah terkontaminasi oleh kebudayaan luar daerah.

“Jaran Kepang asli Temanggung sudah kian meninggalkan pakem pakem lama karena tergeser oleh masuknya kreasi, khususnya kesenian asal Bali yang belum dikaji secara mendalam,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang sesepuh Jaran Kepang Temanggungan, Mbah Gajul, menjelaskan, saat ini dari ratusan kelompok kesenian jathilan, hanya tersisa dua kelompok saja yang masih mempertahankan pakem pakem lama. Yakni Turongggo Mudo asal Tlogomulyo dan Sri Budoyo asal Tembarak. “Jaran Kepang Temanggungan memiliki identitas yang menjadi ciri khas. Yakni musik dari perangkat gamelan murni serta pemainnya yang menggunakan baju putih, rompi, dan ikat kepala,” pungkasnya. (riz)